Kami berjumpa di supermarket buah segar. Kereta belanjanya menggunung. “Aku tinggal di lantai atas,” ujarnya sambil melahap durian bulat-bulat. Aku terperanjat. Makanan favorit kita sama. “Aku juga sering menelan durian-durian yang bergelindingan di jalanku menuju rumah,” kataku. “Bagaimana rasanya?” ia bertanya. Aku memandangi siluet durian yang turun pelan-pelan di dalam tenggorokoannya. Kalau melihat orang lain yang melakukan memang agak menyeramkan. “Ya begitu saja,” jawabku. “Cuma masalahnya aku tidak pernah sampai di rumah. Durian itu membimbingku ke jalan-jalan panjang. Ke supermarket buah segar lainnya. Di mana aku bertemu orang-orang yang selalu menghisapku ke dalam hidup mereka. Seperti yang akan terjadi sebentar lagi jika kita terus berbicara.”
Ia membalikkan badan lalu tersenyum, “aku sudah terhisap di dalam hidup orang lain, tidak ada ruang untukmu masuk.” Poninya terkibas-kibas pendingin ruangan. Ia memakai atasan putih dari linen. “Sebaiknya kamu tetap di sini.” Ia bercerita bahwa ia akan pindah kota, ikut suaminya. Kamarnya di lantai atas tidak ada yang menempati. Padahal dia butuh orang yang bersedia menjaga album-album foto tua warisan neneknya. Suatu saat dia akan kembali.
Karena hari sudah malam dan aku butuh tempat untuk menginap, aku mengiyakan. Kamarnya kecil, 6 meter persegi, penuh sesak dengan album foto. Ia selipkan album itu di bawah tempat tidur, di dalam laci, menumpuk setinggiku di salah satu sudut. Dinding kamarnya dipenuhi foto. Benar-benar tidak ada ruang kosong selain foto. Foto segala rupa manusia dan durian, membawa durian dalam kantung belanja, mengetekinya dengan kedua lengan, menyusunnya sampai tinggi lalu berpose di depannya dengan senyum penuh kebanggaan.
“Apa mereka semua menelan durian bulat-bulat?” tanyaku.
“Tidak, sebagian makan dagingnya saja, seperti orang kebanyakan. Sebagian lagi hanya menyimpannya sebagai jimat. Biar dagangannya laris, cerita mereka. Kecuali ayahku,” ia menunjuk sebuah foto di samping tempat tidur, “kamu lihat lehernya besar?”
“Apa dia sudah sampai di rumahnya lagi?” mataku tak bisa lepas dari foto ayahnya.
“Belum. Sepertinya tak mau kembali. Kata orang dia menemukan taman ria yang bangkrut dan sudah ditinggal pemiliknya. Kamu dengar berita kan? Katanya pendapatan mereka menurun drastis dan CEO nya ganti, tapi CEO baru akhirnya menyerah dan menelantarkannya begitu saja. Katanya keramaian yang sunyi itu indah sekali sampai ia lupa harus pulang ke rumah. Aku tidak percaya. Mungkin ia hanya bosan saja memakan durian.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan bersama suamimu?” aku mulai merasa terlalu ingin tahu.
“Aku tidak tahu. Tolong jaga barang-barangku. Aku akan kembali,” ia berlalu dengan ekspresi datar dan pergi begitu saja.
Aku berusaha terbiasa dengan tempat tinggalku yang baru. Mengamat-amati satu demi satu foto dan album-albumnya. Namun dari sekian banyak foto, aku hanya tertarik memandangi foto ayahnya. Aku bisa memandang foto itu berjam-jam. Di dalam hati kecilku, aku akan menemukan jawaban dari foto itu. Lebih tepatnya sebuah alasan yang menjustifikasi ketidakinginanku kembali ke rumah. Kenapa ia memilih untuk tidak kembali? Di mana taman ria itu? Sepertinya aku harus menemukannya. Sepertinya itu tujuanku sebenarnya. Aku harus tahu lebih banyak tentang ayah perempuan ini.
Setiap hari aku mengambil satu durian dari supermarket di bawah. Seperti supermarket-supermarket lainnya di mana aku sering berhenti, aku akan memakan durian itu satu demi satu sampai habis, setelah itu, aku harus keluar dari tempat itu dan mencari durian lain di jalanan. Kalau tidak aku akan kelaparan dan lama-kelamaan bisa mati. Aku suka durian dan hanya durian yang kumakan. Seperti orang lain makan makanan biasa. Aku tidak makan nasi dan semacamnya. Bawaan lahir saja, lidahku tidak cocok. Mungkin lebih tepatnya tenggorokanku.
Waktu berlalu dan aku mulai gelisah. Aku tidak tahu kapan perempuan itu kembali. Apakah ia akan kembali sebelum durian habis? Jika ya, masalah selesai. Jika tidak, aku harus memilih untuk kelaparan menunggu ia kembali atau pergi tanpa tahu lebih banyak tentang ayahnya dan harus memulai pencarianku dari awal, terlunta-lunta di jalanan.
Hari ketiga setelah durian habis aku mulai kelaparan. Dahiku berkeringat dan sedikit saja suara di pintu akan mengagetkanku, secepat kilat aku membuka pintu. Namun tidak ada siapa-siapa selain kegaduhan dari bawah. Mungkin buah-buahan baru datang dengan kerat-kerat besar menubruk-nubruk dinding.
Seminggu setelahnya aku tidak tahan lagi. Aku mulai mencabuti foto-foto berbagai orang dengan durian di dinding dan menelannya satu-satu. Ternyata itu memang membuatku merasa jauh lebih baik. Kegembiraan itu datang meluap-luap. Aku membuka album foto yang bertumpukan dan mengeluarkan semua fotonya lalu memakannya dengan rakus. Air liurku menetes-netes. Setelah foto di album habis aku mencabuti sisa-sisa foto di dinding dan menelan semuanya.
Aku kekenyangan dan merasa sangat bahagia. Butuh sekitar 20 menit untuk menyadari ada tulisan besar-besar yang memelototiku di dinding yang kini kosong. Tulisan itu ditulis dengan cat tebal warna-warni. Sisa-sisanya menetes ke bawah.
Aku sudah lama menunggumu.
Di saat bersamaan, perempuan itu sudah berdiri di sampingku, berkata sebelum membuka mulutnya lebar-lebar, “akulah taman riamu.” Sekejap aku merasakan jatuh dari roller coaster yang gelap, lalu cahaya-cahaya ungu menghujaniku. Aku merasa damai.
@Lily’s Place
Assinar:
Postar comentários (Atom)
2 celoteh:
untungnya saya tidak suka durian. hahaha. cerita yang mengerikan :|
hihihi iyah, aku juga tidak
Postar um comentário