Aku tidak ingat sejak kapan mereka menjadi kelelawar.
Aku cuma ingat di satu siang yang terik mereka bertengkar. Ada gebrakan meja, teriak-teriak, sesuatu yang pecah, lalu isak tangis. Malam itu, kakakku membuka koper besar tempat ia mengumpulkan koin-koin kembalian, menghitungnya, dan menjejalkan pakaian ke dalamnya. Koin yang ia kumpulkan ternyata hampir memenuhi koper itu, jadi ia hanya bisa menjejalkan tiga potong kaos, dua celana dalam, satu BH, dan satu potong celana ke dalamnya. Ia menoleh padaku, berkata, “kamu harus bisa menjaga diri sendiri, apapun yang terjadi, karena suatu saat nanti, kamu pasti mati sendirian.” Ia menepuk kepalaku dua kali, kemudian pergi meninggalkan rumah.
Kakak perempuanku memang tidak seperti kakak-kakak perempuan temanku yang lain yang sering mereka ceritakan di sekolah. Teman-temanku selalu bilang kalau kakak mereka sok tahu, suka mengatur, selalu meminjam barang dan mainan lalu menghilangkan atau merusaknya. Kakak-kakak itu akan memarahi mereka kalau pulang terlambat, tapi di akhir pekan mereka pulang jam 5 pagi membuat seisi rumah gonjang-ganjing mengkhawatirkannya. Kakak mereka suka mencibir, lalu setiap bulan ada satu periode ketika kelakuan mereka itu 25 kali lipat lebih parah. Kakak mereka yang berpacaran sering menelepon pacarnya tengah malam, membuat mereka tidak bisa tidur karena satu hari mereka bisa bermanja-manja dan di hari lain mereka meneriakkan sumpah serapah dan meraung-raung. Kakak mereka yang tidak berpacaran suka mengeluhkan selulit di pahanya yang seperti permukaan sofa. “Pokoknya aku ingin mereka cepat-cepat minggat dari rumah.” “Kakakku selalu ingin jadi pusat perhatian.” “Kakakku benar-benar gila.” Itu yang mereka selalu bilang.
Tapi kakakku tidak seperti itu. Ia tidak pernah mencampuri urusanku, apalagi marah padaku. Di dalam dan di luar rumah kami memiliki lingkaran masing-masing yang tidak tumpang tindih. Walaupun sesekali ia mengajakku ke mini market dekat rumah untuk beli es krim Spongebob, es krim favoritku rasa vanila-coklat-pisang. Kakakku hampir selalu ada di rumah. Aku melihatnya tiap berangkat dan pulang sekolah, saat makan malam bersama ayah-ibu. Namun dia tidak pernah benar-benar berada di sana. Ayah-ibu sepertinya tahu apa yang ia lakukan, kegemarannya, dan kegiatannya. Namun mereka tidak benar-benar tahu. Sepertinya kakinya menjejak tanah tapi bagian terdalam di jiwanya telah lama pergi ke tempat yang gelap. Sebulan sekali ia mengunjungi tempat gelap itu. Biasanya dia menduduki perosotan plastik di halaman belakang rumah dan bengong sendirian di sana. Aku tidak pernah menganggap kakakku gila. Karena gila yang aku tahu dari cerita teman-temanku adalah teriak-teriak, marah-marah, dan meraung-raung. Kakakku tidak gila. Dia diam saja seperti itu.
Lalu suatu hari ia pergi begitu saja dan bilang aku akan mati sendirian. Saat itu aku belum begitu paham maksud dari kalimatnya. Perhatianku lebih tersita pada PR matematika, seni rupa, pertandingan kasti antar kelas, dan anak baru pindahan bermata elang. Ketika aku menceritakan pada teman-temanku tentang kakakku yang minggat, mereka hanya bilang bahwa aku beruntung dan meneruskan pembicaraan tentang si anak bermata elang.
Karena itulah waktu berlalu dan tanpa kusadari malam semakin hening dan tidak ada yang membuka pintu kamar ayah-ibu ketika aku mengetuknya karena ingin diantar ke kamar mandi. Jika tidak ada yang menemani aku terpaksa menahan pipis lalu tidak bisa tidur nyenyak dan bermimpi tentang sekelebat sayap-sayap hitam di jendela kamar kakak. Makin lama mimpi itu semakin detail. Ternyata sayap itu adalah sayap kelelawar yang hinggap lama sekali di depan jendela kamar kakak memandangi tempat tidurnya yang dingin. Ketika pagi tiba aku bangun sendiri dengan alarmku lalu pergi sekolah naik angkot. Dalam waktu yang cukup lama aku tidak menyadari gelas kopi ayah yang berdebu dan ibu yang sudah tidak pernah memasak telur lagi. Suatu hari aku tidak masuk sekolah karena flu dan ketika membuka pintu kamar orang tuaku, aku melihat pohon besar dan dua kelelawar bergelantung di dahannya, tidur. Aku menutup pintu pelan-pelan sehingga mereka tidak terbangun dan melanjutkan hidupku seperti biasa.
Saat itu aku ingat kata kakakku tentang mati sendirian. Aku berpikir, saat kita tumbuh besar orang tua kita menjadi kelelawar sehingga kita harus mengurus diri kita sendiri sampai kita mati. Jika menikah dan punya anak, kita akan jadi kelelawar seperti ayah-ibu. Tetapi, jika kita tidak menikah, kita akan mati sendiri. Dari dua kemungkinan itu kemudian aku memilih mati sendiri. Hidup selamanya menjadi kelelawar itu menyedihkan. Kamu harus menumbuhkan pohon besar di kamarmu lalu ketika buang air besar, kamarmu itu akan bau sekali. Sehingga, mulai saat itulah aku belajar buang air besar tanpa ditemani dan melakukan semua sendiri, sampai hari ini.
Sampai tepat sebelum Nokia X6ku melagukan Gorillaz, Some Kind of Nature. Itu artinya telepon dari nomor tak dikenal. Suara di seberang telepon bilang kalau aku harus ke sebuah alamat mengambil peninggalan kakak karena ia ditemukan mati di dalam kopor besar. Kopor besar tempat ia menyimpan koin. Katanya ia minum racun tikus lalu melipat dirinya ke dalam kopor itu. Ketika ditemukan ia belum lama mati. Koper besar—dan kakak—ditemukan di sebuh paviliun sewaan oleh teknisi televisi kabel. Dia datang karena kakak menelepon, minta diperbaiki decodernya. Dia bersumpah masih melihat pipi kakak bersemu merah. Teknisi ini sampai berbaik hati memotretnya dengan HP dan mengirimkannya padaku lewat bluetooth. Aku tidak bisa berkata apapun selain meminta untuk tidak menyebarluaskannya lewat Twitter.
Di paviliun ukuran 3 x 5 meter, kakak hanya meninggalkan sekeping 500 rupiah dan pakaian yang ia bawa ketika ia meninggalkan rumah, persis tidak bertambah sepotong pun. Ia sendiri mengenakan baju yang sama seperti hari itu.
Sepulangnya dari sana, aku berharap masih ada lelaki yang mau menikahiku di usia 47 ini dan menemaniku selamanya jadi kelelawar.
5 celoteh:
you might wanna see this nin..
http://erersspeaking.blogspot.com/2010/04/penyihir-jenius.html
Komen dikit ah, boleh ya nin?
"gw suka bgt permainan kata lo, waktu baca. Gw kaya beneran main di kepala lo nin". hehe
btw, blog lo gw add di link blog gw ya..
wah asikk terima kasih yaa!
eh askey ini ayu atau moussa si? di profile lo gak ada namanya gitu
Sorry nin,, gw juga ga ngerti knapa setiap gw komen orang yang pake blogspot, keluarnya malah blogspot gw yng udah lama gw apus.Mungkin karena gw regristrasinya pake e-mail yang sama kali.
ini blog gw: http://mossac.wordpress.com/
ah baiklah mos akan gue follow!
Postar um comentário