05 Janeiro 2010

menunggu keriaan yang akan datang

Malam itu langit mendung dengan peluang air mata rintikrintik.
Tiga speker Symbian lampunya kelapkelip di punggung angkot ciasin. Pipimu bersemu merah kena dinginnya malam di gadog. Bis Agra Mas membawa kita pulang ke satusatunya neraka yang bisa kusebut rumah. Macet di sentul. Macet di cibubur. Aku bisa melihat masa depan kita menuju ke arah yang sama namun tersendat di banyak tempat. We can work it out wajib hukumnya karena kalau tidak aku bisa terluntalunta seperti sampah kacang di pinggir buka-tutup puncak. Kita terbiritbirit ingin segera menuju what’s next selanjutnya.

Kamu masih punya mimpi yang besar untuk jadi Orang, katanya. Orang, siapa? Kadang kesuksesan berbanding lurus dengan frekuensi jalan-jalan ke luar negeri. Di satu titik aku merasa cukup menjalani yang sudah aku punya saja.

La Code Fin. Hampa dengan ribuan pasang mata yang terpaksa butuh untuk menelanjangi satu sama lain. Karena they go with their killer style, head to toe, killed their wallet, allright. Tempat dimana orang menjustifikasi makanan nggak enak dengan worth it sedangkan Steve Aoki beraksi di pusat keriaan lain, we won’t give a fuck. Sebenarnya nggak pernah dengar juga. Percuma bertandang tanpa punya teman untuk pameran. Walaupun percuma gas tabungan terus untuk menyimpan koleksi di lemari. Tapi nggak percuma kok mampir di la code fin dengan 3 batang rokok dan sepiring fish and chips amis. Beberapa jam lagi bersamamu nggak masyalah dimanapunsaja.