17 Dezembro 2008

mengejar masmas [cinere mal]

Baiklah, okelah. Kukejar dikau sampai cinere mal. Dimana poster "Mas Suka Masukin Aja" rebah sebelah. Sengaja atau angin. Yang pasti aku ingin segera jumpa. Wujudkan suara seksimu dalam dimensi visualku. Tidak syoping dong kantongku kosong. Lagian ngosngos laju sepeda dari gandul. Kirain deket taunya blepet. Kuharap dia tidak menganggapku blesek kaya mal ini ringsek.

boleh dong mampir di petshop. tengok dalam sangkar hamsterkelincianjingkucing
ularbuaya. ah ngapain repot sebentar lagi juga mau ketemu buaya peyot.

14 Dezembro 2008

garpu berdenting

aku bangun perahu untuk gelayuti isi kepalamu diterangi syair pancaroba yang cerita tentang buyung diterangi neon.

air beriak tanda tak dalam.

aku tancapkan benderabendera merah marka teritori di pojok sana sudut sini, tapi siapa itu yang berdesir?

suara yang merayap dari masa lain.

dapatkah tuan menghentikan tiupan angin lain itu yang mendentingkan garpugarpu yang tergantung di langit tak bermatahari? atau gantungkan saja sepatu tuan disana agar tuan selamanya disini.

03 Dezembro 2008

menara air


Aku mau curi sisa waktu hidupmu. Karena separuh waktuku adalah lamunan. Seperti chitose merah yang ditinggal di lapangan badminton, pagi hari pukul 7.

Ditinggalkan jurinya.

Aku ingin merobekkan langit di tengah arka pelangi. Untuk kamu rekam dalam pita merah. Untuk tunjukkan setelah ungu masih ada hitam. Dan bintang kembar. Dan galaksi bentuk kupukupu yang penuhi perutku ketika sedang bahagia.
[walau tatapanku hanya setinggi menara air]


*catetan waktu dateng kepagian ke kampus demi mata kuliah yang dosennya sangat tidak apresiatif. babik,*

polisi cuaca

Bagaimana aku dapat merobek langit, sedangkan guntur ini meledak begitu sempurna, pecahannya bentuk partikel sama besar. Aku hanya sanggup menegur hujan rimbun yang merembesi terpalterpal kuning, mengingatkan mereka supaya lain kali mematuhi ramburambu lalu lintas. Karena jika tertangkap sekali lagi, mereka masuk penjara. Lalu para manusia yang merindukan gigil dan basah mengutuki aku. Hujamkan taringtaring besi pada dadaku yang sehalus pasir. Buat aku ingin melebur menjadi hembusan asap shisha aroma apel-vanilla. Padahal nusa ini bisa kutuang dalam secarik kertas, penuhi warnawarni. Bangsatnya, bangsanya pemuja setan, selalu kepanasan setel kipas elektronik buat semilir kabur ketakutan. Tidak kurang, semua berkelebihan. Berkelebihan kurangnya. Otak udang, hati tiran. Coba aku bisa menyamar jadi ahli alkemia. Aku ubah mereka jadi udang bedakan tepung yang mondarmandir di pusat perbelanjaan bertabur neon new rave ulala. Udang zombie yang ciptakan kebutuhannya sendiri beserta alat pemuasnya. Semua fabrikan. Aku ingin menunjukkan pada mereka betapa pekat rasanya memandang hampanya luar angkasa. Suatu hari mungkin aku akan menulis hitchhiker's guide to the galaxy for dummies. Atau idiot's guide to the infinite space. Sayang aku cuma polisi cuaca yang underpaid sama seperti weather men yang jadi pengisi waktu kosong ketika ga ada lagi bahan berita.

Oh seandainya aku dapat merobekkan langit untukmu. Aku bersedia kok menulis surat cinta di venus sambil melantunkan venus in furs.