30 março 2012

nothing is real, nothing = real


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
memasukkan Minneapolis

diam-diam dalam dadanya.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
meniup kupu-kupu

mengusirnya jauh-jauh.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
menampung hujan

dalam-dalam meneguknya.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
memasukkan hujan

diam-diam dalam dadanya.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
meniup Minneapolis

mengusirnya jauh-jauh.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
menampung kupu-kupu

dalam-dalam meneguknya.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
memasukkan kupu-kupu

diam-diam dalam dadanya.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
meniup hujan

mengusirnya jauh-jauh.


Perempuan kecil
membentuk mangkuk
dengan jarinya
menampung Minneapolis

dalam-dalam meneguknya.


Perempuan kecil
mengukir mangkuk
di jarinya
berharap tuhan bisa

membawanya jauh dari sini.

04 outubro 2010

ayam kodok

Ini malam yang sempurna. Aku sudah mandi dengan sabun import, bercukur, mengoles pelembab. Ini sudah kita rencanakan sejak dua tahun lalu. Diam-diam. Kita bilang dalam hati, kalau kamu tidak bertemu siapa-siapa dan aku tidak menjadi milik siapa-siapa maka kita akan menikah di atas meja makan ini.

Selama dua tahun itu, aku tidak berusaha bertemu siapapun, apalagi menjadi milik siapapun. Aku tidak tahu apakah kamu melakukan hal serupa. Selama dua tahun itu, aku menjejali perutku dengan dagingku sendiri. Yang kukunyah rapih lalu kutelan. Untuk menjaga tubuhku dari zat asing, melapangkan hatiku untukmu saja.

Aku mengambil risiko besar tanpa punya rencana cadangan. Persetan dengan rencana, aku sedang memakan dagingku sendiri. Aku menyapu tetesan darah di atas ubin kamarku yang putih, menandai berlalunya hari di kalender dengan spidol permanen sampai tembus 5 kertas.

Tapi ternyata, malam ini datang juga. Kamu bilang, aku tampak berantakan. Sepertinya memang ada yang hilang ketika dagingku diserap ususku sendiri, ketika aku menyisakan hati hanya untukmu. Aku bilang aku sibuk. Aku bohong.

Matamu membakar semua di meja makan. Termasuk dadaku yang terlentang di atasnya. Abu beterbangan terkena nafasmu yang terburu-buru. Terkubur di situ, kamu menemukan hatiku.

Melihat mata laparmu sebelum semua gelap sudah cukup untukku.



*untuk kompetisi flash fiction blogfam dari pengumuman ini
http://forum.blogfam.com/index.php/topic,12868.0.html


BlogFam Community

07 setembro 2010

durian

Kami berjumpa di supermarket buah segar. Kereta belanjanya menggunung. “Aku tinggal di lantai atas,” ujarnya sambil melahap durian bulat-bulat. Aku terperanjat. Makanan favorit kita sama. “Aku juga sering menelan durian-durian yang bergelindingan di jalanku menuju rumah,” kataku. “Bagaimana rasanya?” ia bertanya. Aku memandangi siluet durian yang turun pelan-pelan di dalam tenggorokoannya. Kalau melihat orang lain yang melakukan memang agak menyeramkan. “Ya begitu saja,” jawabku. “Cuma masalahnya aku tidak pernah sampai di rumah. Durian itu membimbingku ke jalan-jalan panjang. Ke supermarket buah segar lainnya. Di mana aku bertemu orang-orang yang selalu menghisapku ke dalam hidup mereka. Seperti yang akan terjadi sebentar lagi jika kita terus berbicara.”

Ia membalikkan badan lalu tersenyum, “aku sudah terhisap di dalam hidup orang lain, tidak ada ruang untukmu masuk.” Poninya terkibas-kibas pendingin ruangan. Ia memakai atasan putih dari linen. “Sebaiknya kamu tetap di sini.” Ia bercerita bahwa ia akan pindah kota, ikut suaminya. Kamarnya di lantai atas tidak ada yang menempati. Padahal dia butuh orang yang bersedia menjaga album-album foto tua warisan neneknya. Suatu saat dia akan kembali.

Karena hari sudah malam dan aku butuh tempat untuk menginap, aku mengiyakan. Kamarnya kecil, 6 meter persegi, penuh sesak dengan album foto. Ia selipkan album itu di bawah tempat tidur, di dalam laci, menumpuk setinggiku di salah satu sudut. Dinding kamarnya dipenuhi foto. Benar-benar tidak ada ruang kosong selain foto. Foto segala rupa manusia dan durian, membawa durian dalam kantung belanja, mengetekinya dengan kedua lengan, menyusunnya sampai tinggi lalu berpose di depannya dengan senyum penuh kebanggaan.

“Apa mereka semua menelan durian bulat-bulat?” tanyaku.

“Tidak, sebagian makan dagingnya saja, seperti orang kebanyakan. Sebagian lagi hanya menyimpannya sebagai jimat. Biar dagangannya laris, cerita mereka. Kecuali ayahku,” ia menunjuk sebuah foto di samping tempat tidur, “kamu lihat lehernya besar?”

“Apa dia sudah sampai di rumahnya lagi?” mataku tak bisa lepas dari foto ayahnya.

“Belum. Sepertinya tak mau kembali. Kata orang dia menemukan taman ria yang bangkrut dan sudah ditinggal pemiliknya. Kamu dengar berita kan? Katanya pendapatan mereka menurun drastis dan CEO nya ganti, tapi CEO baru akhirnya menyerah dan menelantarkannya begitu saja. Katanya keramaian yang sunyi itu indah sekali sampai ia lupa harus pulang ke rumah. Aku tidak percaya. Mungkin ia hanya bosan saja memakan durian.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan bersama suamimu?” aku mulai merasa terlalu ingin tahu.

“Aku tidak tahu. Tolong jaga barang-barangku. Aku akan kembali,” ia berlalu dengan ekspresi datar dan pergi begitu saja.

Aku berusaha terbiasa dengan tempat tinggalku yang baru. Mengamat-amati satu demi satu foto dan album-albumnya. Namun dari sekian banyak foto, aku hanya tertarik memandangi foto ayahnya. Aku bisa memandang foto itu berjam-jam. Di dalam hati kecilku, aku akan menemukan jawaban dari foto itu. Lebih tepatnya sebuah alasan yang menjustifikasi ketidakinginanku kembali ke rumah. Kenapa ia memilih untuk tidak kembali? Di mana taman ria itu? Sepertinya aku harus menemukannya. Sepertinya itu tujuanku sebenarnya. Aku harus tahu lebih banyak tentang ayah perempuan ini.

Setiap hari aku mengambil satu durian dari supermarket di bawah. Seperti supermarket-supermarket lainnya di mana aku sering berhenti, aku akan memakan durian itu satu demi satu sampai habis, setelah itu, aku harus keluar dari tempat itu dan mencari durian lain di jalanan. Kalau tidak aku akan kelaparan dan lama-kelamaan bisa mati. Aku suka durian dan hanya durian yang kumakan. Seperti orang lain makan makanan biasa. Aku tidak makan nasi dan semacamnya. Bawaan lahir saja, lidahku tidak cocok. Mungkin lebih tepatnya tenggorokanku.

Waktu berlalu dan aku mulai gelisah. Aku tidak tahu kapan perempuan itu kembali. Apakah ia akan kembali sebelum durian habis? Jika ya, masalah selesai. Jika tidak, aku harus memilih untuk kelaparan menunggu ia kembali atau pergi tanpa tahu lebih banyak tentang ayahnya dan harus memulai pencarianku dari awal, terlunta-lunta di jalanan.

Hari ketiga setelah durian habis aku mulai kelaparan. Dahiku berkeringat dan sedikit saja suara di pintu akan mengagetkanku, secepat kilat aku membuka pintu. Namun tidak ada siapa-siapa selain kegaduhan dari bawah. Mungkin buah-buahan baru datang dengan kerat-kerat besar menubruk-nubruk dinding.

Seminggu setelahnya aku tidak tahan lagi. Aku mulai mencabuti foto-foto berbagai orang dengan durian di dinding dan menelannya satu-satu. Ternyata itu memang membuatku merasa jauh lebih baik. Kegembiraan itu datang meluap-luap. Aku membuka album foto yang bertumpukan dan mengeluarkan semua fotonya lalu memakannya dengan rakus. Air liurku menetes-netes. Setelah foto di album habis aku mencabuti sisa-sisa foto di dinding dan menelan semuanya.

Aku kekenyangan dan merasa sangat bahagia. Butuh sekitar 20 menit untuk menyadari ada tulisan besar-besar yang memelototiku di dinding yang kini kosong. Tulisan itu ditulis dengan cat tebal warna-warni. Sisa-sisanya menetes ke bawah.

Aku sudah lama menunggumu.

Di saat bersamaan, perempuan itu sudah berdiri di sampingku, berkata sebelum membuka mulutnya lebar-lebar, “akulah taman riamu.” Sekejap aku merasakan jatuh dari roller coaster yang gelap, lalu cahaya-cahaya ungu menghujaniku. Aku merasa damai.

@Lily’s Place

21 abril 2010

Kecanduan Rosi

Aku Rosi. Aku suka lelaki. Sangat suka. Aku tidak ingin kelihatan sok atau bagaimana, tapi itu terjadi begitu saja. Aku mudah jatuh cinta, dan setiap aku menyadari hal itu, mereka mengutarakan hal yang sama terhadapku. Padahal aku tidak terlalu cantik. Aku hanya mencoba jujur terhadap perasaanku sendiri. Jika aku menyukai seseorang, aku akan mengajaknya pergi duluan. Jika aku tertarik oleh seseorang di tengah jalan, aku akan menatap dia terus sampai dia balik menatapku. Aku selalu punya cara untuk menarik lelaki ke arahku, di mana dan kapan saja.

Aku bisa jatuh cinta dengan segala tipe lelaki. Lelaki bermata belo, sipit, berhidung mancung, pesek, kulit kuning, hitam, tinggi, pendek, gemuk, ceking, hobi musik, olahraga, menari, lelaki penulis, akuntan, insinyur, apapun. Aku bisa jatuh cinta kapan saja. Saat aku sedang bersama lelaki lain, saat sedang sendiri. Aku bisa menjalin hubungan dengan 15 lelaki sekaligus, tanpa menyakiti satupun dari mereka. Aku selalu punya cara untuk merapikan mereka di dalam rak-rak di hatiku. Memberi ruang dan sekat sesuai kebutuhan mereka. Bagi hatiku, selalu ada ruang tak terhingga untuk para lelaki itu. Tentunya aku dipaksa untuk memiliki keterampilan itu. Kalau tidak bisa kacau semua. Karena ketika aku sudah menetapkan hatiku untuk jatuh cinta dengan seseorang, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

Buatku, yang menarik dari lelaki adalah sayap-sayap di punggungnya. Tiap orang memiliki bentuk dan paduan warna berbeda. Sayap itu juga berubah sesuai dengan kondisi hatinya. Jika marah, sayap mereka akan mengerut dan menjadi lebih gelap. Jika bahagia, sayapnya itu mengembang jadi lebar sekali seperti burung yang bersiap mau terbang. Warnanya berpendaran diterpa matahari. Memandangi sayap-sayap itu mengembang perlahan sambil kita mengobrol menyenangkan sekali.

Di malam ketika aku melakukannya bersama para lelaki itu, sayapnya mengembang lebar sekali di atasku sampai mereka benar-benar terbang. Mereka tidak menyadarinya karena mereka hanya terbang kira-kira 1 cm. Namun ketika kamu yang di bawah, kamu pasti tahu ketika berat mereka perlahan lenyap. Melihat pendaran warna sayap yang diterpa lampu kota terasa seperti hacep dengan seember jamur ajaib.

Namun, berapapun lelaki yang bisa muat dalam hatiku sekaligus, tidak ada yang bertahan lama. Semua berawal manis dan berakhir tragis. Dan semua itu salahku. Aku terlalu suka dengan sayap-sayap itu, warna-warnanya, sehingga aku mencabutinya sehelai demi sehelai untuk kupasang pada punggungku sendiri. Dan lebih buruk lagi, aku mencabutinya di saat mereka sedang paling bahagia karena aku mau sayap di punggungku jadi sayap terindah sejagat raya. Aku akan membuat mereka benar-benar bahagia. Dan ketika sayapnya merekah paling lebar dan bersinar paling terang, aku mencabutinya banyak sekali seperti orang lapar. Dalam jangka waktu singkat, sayap mereka akan botak-botak seperti kucing korban kebakaran. Walaupun para lelaki itu tidak menyadari keberadaan sayapnya, namun ketika sayapnya rusak, mereka jadi lesu, tak bergairah, mudah marah, hilang arah. Seolah sumber kehidupannya berada pada sayap itu, tercabuti perlahan demi mahakarya sayapku sendiri.

Kami bertengkar dan kami berpisah. Semuanya seperti itu. Anehnya hal itu tidak menghalangiku untuk mencari lelaki-lelaki bersayap yang baru. Aku tidak ingin menyakiti mereka, tapi hasratku mengumpulkan helai-helai sayap selalu menang. Tak terhitung berapa kali aku berusaha menahan diriku sendiri untuk tidak mencabutinya dan cukup menikmati saja kebahagiaan pendaran sayap mereka. Namun aku harus memilikinya. Supaya rasa itu abadi.
Jadi, aku minta maaf sebesar-besarnya. Untuk kalian yang harus berakhir di sesi terapi psikiater. Di kamar yang terkunci. Di substansi-substansi. Di tiang gantungan. Kuharap surga tempat yang lebih baik. Untuk yang belum ke surga, aku benar-benar berharap kalian bisa sembuh. Surat ini kutulis sebagai bagian dari sesi terapiku sendiri untuk menyembuhkan ketergantungan ini. Maaf jika surat ini tidak tampak seperti permohonan maaf yang tulus. Sedikit sekali aku punya waktu dengan tangan yang tidak terbelenggu. Di rumahku yang baru, tidak ada lelaki, tidak ada sayap baru. Yang ada hanyalah bunyi besi beradu dengan lubang kunci. Lolongan orang-orang lain yang berusaha mengatasi ketergantungannya masing-masing. Sangat menyakitkan hidup tanpa mencabut sayap, apalagi membongkar mahakarya yang kubuat susah payah. Terlampir adalah helai sayap yang aku ambil dari kalian. Aku tidak akan mengingat kalian lagi jika sayap itu kalian pasang lagi. Tapi tentunya kalian akan segera pulih.


Tertanda,
Rosi M.



nb: aku pernah benar-benar jatuh cinta pada kalian

09 abril 2010

Perempuan Bermata Ketimun

Ketimunmu ketinggalan, banyak orang berkata ketika berpapasan dengan Dala. Sisanya hanya memandangnya pergi sambil menahan nafas, lalu setelah jauh, tawa mereka pecah. Ia hanya bisa berjalan pergi dengan diam. Dala harus membiasakan diri. Inilah konsekuensi dari keputusan yang diambilnya enam bulan lalu. Ketika ia memutuskan untuk berhenti menggunakan matanya untuk melihat lelaki-lelaki dan kejadian-kejadian. Berhenti menangis. Ketika ia mengambil kotak makan siang untuk menyimpan bola matanya di dalam situ. Kotak makan siang yang tutupnya longgar sehingga harus ia lingkarkan karet gelang dan letakkan di bawah tumpukan buku.

Ketika itu sebenarnya ia bisa saja keluar rumah dengan mata berlubang. Namun ia tidak tega jika orang lain harus terkejut dengan penampilannya. Bagaimanapun juga, di dunia ini penampilan adalah segalanya. Bagaimana jika orang itu berpenyakit jantung? Bagaimana pula dengan anak-anak? Ia akan merasa berdosa bila anak-anak itu harus mimpi buruk seumur hidup karena melihat lubang mata. Oleh karena itu ketimun adalah solusi yang tepat. Lagipula ketimun baik untuk kantung matanya yang kehitaman karena jadwal tidur tidak teratur.

Tanpa mata, Dala berkencan dari satu lelaki ke lelaki lain. Tiap kencan pertama, Dala akan berkata, maaf aku menyimpan mataku dalam kotak makan siang, kuharap kamu tidak keberatan berkencan tanpa mataku. Dala tidak selalu gagal dalam kencan pertama. Namun biasanya hubungan itu hanya bertahan paling lama tiga minggu.

“Maaf, tapi denganmu aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

Dala tidak dapat menjelaskannya dengan pasti karena dalam bayangannya satu lelaki berwujud seperti kepiting raksasa dengan capit yang tajam sedangkan lelaki lain berwujud seperti kurcaci licik berhidung bengkok. Terakhir kali, Dala bertemu dengan lelaki yang dalam bayangannya seperti mesin penghisap debu. Dala harus berpegangan erat pada tepi meja supaya ia tidak terhisap.

Hari ini seorang lelaki menunggunya di terminal Blok M. Mereka bertemu di gerbang parkir lalu turun untuk makan di restoran Aceh. Setelah duduk, Dala berkata seperti biasa, maaf aku menyimpan mataku dalam kotak makan siang, kuharap kamu tidak keberatan berkencan tanpa mataku. Lalu mereka memesan nasi goreng dan roti cane dan kuah kari dan dua es teh manis.

Waktu berlalu dan pelayan datang dan pelanggan makan dan pelanggan pergi. Mereka mengobrol dan mengobrol, membentuk bola udara di sekelilingnya yang makin lama makin besar. Bola udara itu membuat orang lain merasa sesak di dalamnya. Di dalam restoran yang sempit itu, pelanggan lain yang tadinya makan di sekitar mereka menggeser meja, makin lama menjauh. Dalam waktu singkat restoran itu kosong. Para pelayan berkumpul di kasir yang kebetulan berada di sudut ruangan. Beberapa dari mereka keluar restoran mencari udara segar. Dala mulai mencari bentuk lelaki ini dalam kepalanya. Ia tidak menemukan bentuk apapun. Bukan kepiting, kurcaci, bahkan bukan mesin penghisap debu.

Malam hari sebelum tidur ia mencari bentuk lelaki itu lagi, dia tetap tidak menemukan apapun. Tidak ada bentuk yang sesuai untuk menggambarkan lelaki yang berhasil membuat bola udara ini. Makin lama ia mengobrol dengan lelaki ini, ketimun di matanya yang tadinya sudah ia terima sebagai anggota tubuhnya sendiri mulai terasa mengganggu dan sedikit gatal. Ketika mereka mengucapkan selamat tinggal malam itu Dala hampir yakin ia mendengar bunyi pop seperti bola udara yang pecah dan semuanya, dunia di luar mereka berdua, berdatangan mendekat satu demi satu seperti disiram berember-ember air dingin berisi suara mesin kendaraan, klakson, langkah kaki, tukang nasi goreng, gerbang rumah yang dibuka, televisi tetangga. Ketika bola udara itu pecah, ketimun di lubang matanya mulai terasa seperti anggota tubuhnya lagi.

Kencan itu berlangsung seminggu, dua minggu, dan pada hari ke 21 ia masih belum menemukan wujudnya, sementara ketimun itu membuat matanya makin gatal. Rasa penasaran dan matanya yang gatal itu membuatnya tidak bisa tidur selama 21 hari sampai kantung matanya hitam kelam. Ketimun yang tadinya menyejukkan kantung matanya karena sulit tidur mulai tidak berfungsi.

Malam ke-21 itu Dala kembali ke kamarnya, meraba-raba tumpukan buku untuk mencari kotak makan siang berisi bola matanya. Di hari ke-22 mereka bertemu. Dala membawa kotak makan siang di dalam tasnya.

“Apa itu?”

“Ini kotak makan siang berisi mataku, aku ingin melihat wujudmu yang sebenarnya. Ketimun ini sudah terasa sangat mengganggu, karena itu aku harus melepasnya. Mataku sangat gatal dibuatnya.”

“Aku tidak menyarankan itu, apa yang kamu rasakan lebih indah dibiarkan begitu saja, mungkin kamu akan kecewa, mungkin kamu akan menangis lagi.”

“Aku siap menangis lagi demi melihat bentukmu yang sebenarnya, sebenarnya aku yakin aku tidak akan menangis karena kukira kamu orang yang tepat, lagipula aku memang menunggu saat seperti ini, saat untuk memasang mataku kembali. Gatal sekali!!!”

“Baiklah jika kamu bersikeras.”

Setelah hampir tujuh bulan berlalu, akhirnya Dala membuka karet yang melingkari kotak makan siangnya, melepas ketimun dari lubang matanya, dan mengambil dua bola matanya. Perlahan pandangannya kembali. Ia melihat tepi meja, cangkir kopi, dan kursi kosong di depannya.

“Di mana kamu?”

“Aku di sini, di depanmu.”